Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Sekang Wikipédia, Ènsiklopédhi Bébas basa Banyumasan: dhialék Banyumas, Tegal, Cirebon karo Jawa Serang/Banten lor.
Mlumpat maring: navigasi, goleti



Daerah Khusus Ibukota Jakarta
—  Propinsi  —
(Sekang duwur, kiwe maring tengen): Kota Tua Jakarta, Bundaran Hotel Indonesia, Cakrawala Jakarta, Stadion Gelora Bung Karno, Taman Mini Indonesia Indah, Monumen Nasional, Istana Merdeka, Masjid Istiqlal
Lambang Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Seal
Motto: "Jaya Raya"
("Jaya dan Besar (Agung)")
Peta lokasi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Negara  Indonesia
Hari jadi 22 Juni 1527 (hari jadi)
Dasar hukum UURI Nomor 29 taun 2007
Ibu kota Jakarta
Koordinat 5° 19' 12" - 6° 23' 54" LS
106° 22' 42" - 106° 58' 18" BT
Luas
 • Total 740.3 km2 (285.8 sq mi)
Populasi (2010)[1] 9.041.605 jiwa (2005)[2]
 • Total 9.588.198
 • Kepadatan Bad rounding here13,000/km2 (Bad rounding here34,000/sq mi)
Demografi
 - Suku bangsa Jawa (35,16%), Betawi (27,65%), Sunda (15,27%), Tionghoa (5,53%), Batak (3,61%), Minang (3,18%), Melayu (1,62%), Lain-lain (7,98%).[3]
 - Agama Islam (83%), Protestan (6,2%), Katolik (5,7%), Buddha (3,5%), Hindu (1,2%)[4]
 - Basa Basa Indonesia, basa Betawi, basa Jawa, basa Sunda, basa Minangkabau, basa Batak, basa Inggris.
Zona waktu WIB (UTC+7)
Kabupaten 1
Kota 5
Kecamatan 44
Desa/kelurahan 267
Situs web www.jakarta.go.id

Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta, Jakarta Raya) kuwe ibu kota negara Indonesia. Jakarta kuwe siji-sijiné kota nang Indonesia sing nduwe status setingkat Propinsi. Jakarta ana nang sisi barat laut Pulau Jawa. Jaman gemiyen jenengé Sunda Kelapa (sedurungé 1527), Jayakarta (1527-1619), Batavia, atawa Jacatra (1619-1942), lan Djakarta (1942-1972).

Jakarta nduwe luas sekitar 661,52 km² (lautan : 6.977,5 km²), jumlah penduduké ana 9.588.198 wong (2010).[5] Wilayah metropolitan Jakarta (Jabotabek) sing berpenduduk sekitar 23 juta jiwa, merupakan metropolitan paling gedhe nang Indonesia atawaurutan keenem dunia.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Jakarta berlokasi nang sebelah utara Pulau Jawa, nang muara Ci Liwung, Teluk Jakarta. Jakarta terletak nang dataran rendah pada ketinggian rata-rata 8 meter dpl. Hal iki mengakibatkan Jakarta sering dilanda banjir. Sebelah selatan Jakarta merupakan daerah pegunungan dengan curah hujan tinggi. Jakarta dilewati oleh 13 sungai sing semuanya bermuara ke Teluk Jakarta. Sungai sing terpenting ialah Ci Liwung, sing membelah kota menjadi dua. Sebelah timur dan selatan Jakarta berbatasan dengan Propinsi Jawa Barat dan nang sebelah barat berbatasan dengan Propinsi Banten.

Kepulauan Seribu merupakan kabupaten administratif sing terletak nang Teluk Jakarta. Sekitar 105 pulau terletak sejauh 45 km (28 mil) sebelah utara kota.

Iklim[sunting | sunting sumber]

Jakarta memiliki suhu udara sing panas dan kering atawa beriklim tropis. Terletak nang bagian barat Indonesia, Jakarta mengalami puncak musim penghujan pada bulan Januari dan Februari dengan rata-rata curah hujan 350 milimeter dengan suhu rata-rata 27 °C. Curah hujan antara bulan Januari dan awal Februari sangat tinggi, pada saat itulah Jakarta dilanda banjir setiap taunnya, dan puncak musim kemarau pada bulan Agustus dengan rata-rata curah hujan 60 milimeter . Bulan September dan awal oktober adalah hari-hari sing sangat panas nang Jakata, suhu udara dapat mencapai 40 °C .[6]. Suhu rata-rata taunan berkisar antara 25°-38 °C (77°-100 °F).[7]

Data iklim untuk Jakarta
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata tertinggi °C (°F) 29.9
(85.8)
30.3
(86.5)
31.5
(88.7)
32.5
(90.5)
32.5
(90.5)
31.4
(88.5)
32.3
(90.1)
32.0
(89.6)
33.0
(91.4)
32.7
(90.9)
31.3
(88.3)
32.0
(89.6)
31,8
(89,2)
Rata-rata terendah °C (°F) 24.2
(75.6)
24.3
(75.7)
25.2
(77.4)
25.1
(77.2)
25.4
(77.7)
24.8
(76.6)
25.1
(77.2)
24.9
(76.8)
25.5
(77.9)
25.5
(77.9)
24.9
(76.8)
24.9
(76.8)
25,0
(77)
Presipitasi mm (inches) 384.7
(15.146)
309.8
(12.197)
100.3
(3.949)
257.8
(10.15)
133.4
(5.252)
83.1
(3.272)
30.8
(1.213)
34.2
(1.346)
29.0
(1.142)
33.1
(1.303)
175.0
(6.89)
84.0
(3.307)
1.655,2
(65,165)
Rata-rata hari berhujan 26 20 15 18 13 17 5 24 6 9 22 12 187
Sumber: World Meteorological Organisation [8]
Patung Pembebasan Irian Barat, salah satu dari sekian banyak monumen era Sukarno sing berdiri nang Jakarta.

Taman[sunting | sunting sumber]

Jakarta memiliki banyak taman kota yang berfungsi sebagai daerah resapan air. Taman Monas atau Taman Medan Merdeka merupakan taman terluas yang terletak di jantung Jakarta. Di tengah taman berdiri Monumen Nasional yang dibangun pada taun 1963. Taman terbuka ini dibuat oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1870) dan selesai pada tahun 1910 dengan nama Koningsplein. Di taman ini terdapat beberapa ekor kijang dan 33 pohon yang melambangkan 33 Propinsi di Indonesia.[9]

Taman Suropati terletak di kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Taman berbentuk lingkaran dengan luas 16,322 m2 ini, dikelilingi oleh beberapa bangunan Belanda kuno. Di taman tersebut terdapat beberapa patung modern karya artis-artis ASEAN, yang memberikan sebutan lain bagi taman tersebut, yaitu "Taman persahabatan seniman ASEAN".[10]

Taman Suropati

Taman Lapangan Banteng merupakan taman lain yang terletak di Gambir, Jakarta Pusat. Luasnya sekitar 4,5 ha. Di sini terdapat Monumen Pembebasan Irian Barat. Pada taun 1970-an, taman ini digunakan sebagai terminal bus. Kemudian pada taun 1993, taman ini kembali diubah menjadi ruang publik, tempat rekreasi, dan juga kadang-kadang sebagai tempat pertunjukan seni atau pertunjukan lain.[11]

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Nama Jakarta dianggap sebagai kependekan dari kata Jayakarta (Dewanagari जयकृत). jeneng iki diberikan oleh orang-orang Demak dan Cirebon nang bawah pimpinan Fatahillah (Faletehan) setelah menyerang dan menduduki pelabuhan Sunda Kelapa pada tanggal 22 Juni 1527. jeneng iki biasanya diterjemahkan sebagai kota kemenangan atawa kota kejayaan, namun sejatinya artinya ialah "kemenangan sing diraih oleh sebuah perbuatan atawa usaha".

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Deleng uga: Sunda Kelapa, Kerajaan Sunda lan Sejarah Batavia
Peta Batavia (sekarang Jakarta) taun 1888.

Sunda Kelapa (397–1527)[sunting | sunting sumber]

Jakarta pertama kali dikenal sebagai salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda sing bernama Sunda Kelapa, berlokasi nang muara Sungai Ciliwung. Ibu kota Kerajaan Sunda sing dikenal sebagai Dayeuh Pakuan Pajajaran atawa Pajajaran (sekarang Bogor) dapat ditempuh dari pelabuhan Sunda Kalapa selama dua hari perjalanan. Menurut sumber Portugis, Sunda Kalapa merupakan salah satu pelabuhan sing dimiliki Kerajaan Sunda selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk. Sunda Kalapa sing dalam teks iki disebut Kalapa dianggap pelabuhan sing terpenting karena dapat ditempuh dari ibu kota kerajaan sing disebut dengan jeneng Dayo (dalam bahasa Sunda modern: dayeuh sing berarti ibu kota) dalam tempo dua hari. Kerajaan Sunda sendiri merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-5 sehingga pelabuhan iki diperkirakan telah ada sejak abad ke-5 dan diperkirakan merupakan ibu kota Tarumanagara sing disebut Sundapura.

Pada abad ke-12, pelabuhan iki dikenal sebagai pelabuhan lada sing sibuk. Kapal-kapal asing sing berasal dari Tiongkok, Jepang, India Selatan, dan Timur Tengah sudah berlabuh nang pelabuhan iki membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah sing menjadi komoditas dagang saat itu.

Jayakarta (1527–1619)[sunting | sunting sumber]

Orang Portugis merupakan orang Eropa pertama sing datang ke Jakarta. Pada abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda meminta bantuan Portugis sing ada nang Malaka untuk mendirikan benteng nang Sunda Kelapa sebagai perlindungan dari kemungkinan serangan Cirebon sing akan memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Upaya permintaan bantuan Surawisesa kepada Portugis nang Malaka tersebut diabadikan oleh orang Sunda dalam cerita pantun seloka Mundinglaya Dikusumah, dimana Surawisesa diselokakan dengan jeneng gelarnya yaitu Mundinglaya. Namun sebelum pendirian benteng tersebut terlaksana, Cirebon sing dibantu Demak langsung menyerang pelabuhan tersebut. Orang Sunda menyebut peristiwa iki tragedi, karena penyerangan tersebut membungihanguskan kota pelabuhan tersebut dan membunuh banyak rakyat Sunda disana termasuk syahbandar pelabuhan. Penetapan hari jadi Jakarta tanggal 22 Juni oleh Sudiro, walikota Jakarta, pada taun 1956 adalah berdasarkan tragedi pendudukan pelabuhan Sunda Kalapa oleh Fatahillah pada taun 1527. Fatahillah mengganti jeneng kota tersebut menjadi Jayakarta sing berarti "kota kemenangan". Selanjutnya Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon, menyerahkan pemerentahan nang Jayakarta kepada putranya yaitu Sultan Maulana Hasanuddin sing menjadi sultan nang Kesultanan Banten.

Batavia (1619–1942)[sunting | sunting sumber]

Pasukan Pangeran Jayakarta menyerahkan tawanan Belanda kepada Pangeran Jayakarta

Orang Belanda datang ke Jayakarta sekitar akhir abad ke-16, setelah singgah nang Banten pada taun 1596. Jayakarta pada awal abat ke-17 diperintah oleh Pangeran Jayakarta, salah seorang kerabat Kesultanan Banten. Pada 1619, VOC dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen menduduki Jayakarta setelah mengalahkan pasukan Kesultanan Banten dan kemudian mengubah namanya menjadi Batavia. Selama kolonialisasi Belanda, Batavia berkembang menjadi kota sing besar dan penting. (Lihat Batavia). Untuk pembangunan kota, Belanda banyak mengimpor budak-budak sebagai pekerja. Kebanyakan dari mereka berasal dari Bali, Sulawesi, Maluku, Tiongkok, dan pesisir Malabar, India. Sebagian berpendapat bahwa mereka inilah sing kemudian membentuk komunitas sing dikenal dengan jeneng suku Betawi. Waktu iku luas Batavia hanya mencakup daerah sing saat iki dikenal sebagai Kota Tua nang Jakarta Utara. Sebelum kedatangan para budak tersebut, sudah ada masyarakat Sunda sing tinggal nang wilayah Jayakarta seperti masyarakat Jatinegara Kaum. Sedangkan suku-suku dari etnis pendatang, pada zaman kolinialisme Belanda, membentuk wilayah komunitasnya masing-masing. Maka nang Jakarta ada wilayah-wilayah bekas komunitas iku seperti Pecinan, Pekojan, Kampung Melayu, Kampung Bandan, Kampung Ambon, Kampung Bali, dan Manggarai.

Pada tanggal 9 Oktober 1740, terjadi kerusuhan nang Batavia dengan terbunuhnya 5.000 orang Tionghoa. Dengan terjadinya kerusuhan ini, banyak orang Tionghoa sing lari ke luar kota dan melakukan perlawanan terhadap Belanda.[12] Dengan selesainya Koningsplein (Gambir) pada taun 1818, Batavia berkembang ke arah selatan. taun 1920, Belanda membangun kota taman Menteng, dan wilayah iki menjadi tempat baru bagi petinggi Belanda menggantikan Molenvliet nang utara. nang awal abad ke-20, Batavia nang utara, Koningspein, dan Mester Cornelis (Jatinegara) telah terintegrasi menjadi sebuah kota.

Pada 1 Januari 1926 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan untuk pembaharuan sistem desentralisasi dan dekonsentrasi sing lebih luas. nang Pulau Jawa dibentuk pemerentahan otonom Propinsi. Provincie West Java adalah Propinsi pertama sing dibentuk nang wilayah Hindia Belanda sing diresmikan dengan surat keputusan tanggal 1 Januari 1926, dan diundangkan dalam Staatsblad (Lembaran Negara) 1926 No. 326, 1928 No. 27 jo No. 28, 1928 No. 438, dan 1932 No. 507. Batavia menjadi salah satu keresidenan dalam Provincie West Java disamping Banten, Buitenzorg (Bogor), Priangan, dan Cirebon.

Djakarta (1942–1972)[sunting | sunting sumber]

Penjajahan oleh Jepang dimulai pada taun 1942 dan mengganti jeneng Batavia menjadi Djakarta untuk menarik hati penduduk pada Perang Dunia II. Kota iki juga merupakan tempat dilangsungkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan diduduki Belanda sampai pengakuan kedaulatan taun 1949.

Sebelum taun 1959, Djakarta merupakan bagian dari Propinsi Jawa Barat. Pada taun 1959, status Kota Djakarta mengalami perubahan dari sebuah kotapraja nang bawah walikota ditingkatkan menjadi daerah tingkat satu (Dati I) sing dipimpin oleh gubernur. sing menjadi gubernur pertama ialah dr. Sumarno sosroatmodjo, seorang dokter tentara. Pengangkatan Gubernur DKI waktu iku dilakukan langsung oleh Presiden Sukarno. Pada taun 1961, status Djakarta diubah dari Daerah Tingkat Satu menjadi Daerah Khusus Ibukota (DKI). Gubernurnya tetap Sumarno.[13]

Semenjak dinyatakan sebagai ibu kota, penduduk Jakarta melonjak sangat pesat akibat kebutuhan tenaga kerja kepemerentahan sing hampir semua terpusat nang Jakarta. Dalam waktu 5 taun penduduknya berlipat lebih dari dua. Berbagai kantung pemukiman kelas menengah baru kemudian berkembang, seperti Kebayoran Baru, Cempaka Putih, Rawamangun, dan Pejompongan. Pusat-pusat pemukiman juga banyak dibangun secara mandiri oleh berbagai kementerian dan institusi milik negara seperti Perum Perumnas.

Pada masa pemerentahan Soekarno, Jakarta melakukan pembangunan proyek besar, antara lain Gelora Bung Karno, Mesjid Istiqlal, dan Monumen Nasional. Pada masa iki pula Poros Medan Merdeka-Thamrin-Sudirman mulai dikembangkan sebagai pusat bisnis kota, menggantikan poros Medan Merdeka-Senen-Salemba-Jatinegara. Pusat pemukiman besar pertama sing dibuat oleh pihak pengembang swasta adalah Pondok Indah (oleh PT Pembangunan Jaya) pada akhir dekade 1970-an nang wilayah Jakarta Selatan.

Banjir merupakan masalah berkepanjangan sing terus melanda Jakarta.

Laju perkembangan penduduk iki pernah dicoba ditekan oleh gubernur Ali Sadikin pada awal 1970-an dengan menyatakan Jakarta sebagai "kota tertutup" bagi pendatang. Kebijakan iki tidak bisa berjalan dan dilupakan pada masa-masa kepemimpinan gubernur selanjutnya. Hingga saat ini, Jakarta masih harus bergelut dengan masalah-masalah sing terjadi akibat kepadatan penduduk, seperti banjir, kemacetan, serta kekurangan alat transportasi umum sing memadai.

Pada Mei 1998, terjadi kerusuhan nang Jakarta sing memakan korban banyak etnis Tionghoa. Gedung MPR/DPR diduduki oleh para mahasiswa sing menginginkan reformasi. Buntut kerusuhan iki adalah turunnya Presiden Soeharto dari kursi kepresidenan. (Lihat Kerusuhan Mei 1998).

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Wisma 46, gedung perkantoran tertinggi nang Indonesia, terletak nang tengah-tengah pencakar langit Jakarta.

Selain sebagai pusat pemerentahan, Jakarta juga merupakan pusat bisnis dan keuangan. nang samping Bank Indonesia dan Bursa Efek Indonesia, kantor-kantor pusat perusahaan nasional banyak berlokasi nang Jakarta. Saat ini, lebih dari 70% uang negara, beredar nang Jakarta.[14]

Jakarta merupakan salah satu kota nang Asia dengan masyarakat kelas menengah cukup besar. Pada taun 2009, 13% masyarakat Jakarta berpenghasilan nang atas US$ 10.000. [15] Jumlah ini, menempatkan Jakarta sejajar dengan Singapura, Shanghai, dan Mumbai.

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Jakarta merupakan daerah tujuan urbanisasi berbagai ras nang dunia dan berbagai suku bangsa nang Indonesia, untuk iku diperlukan bahasa komunikasi sing biasa digunakan dalam perdagangan pada masa lampau yaitu bahasa Melayu. Penduduk asli sing berbahasa Sunda pun akhirnya menggunakan bahasa Melayu tersebut.

Walau demikian, masih banyak jeneng daerah dan jeneng sungai sing masih tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti kata Ancol, Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng (yang berasal dari Cihideung dan kemudian berubah menjadi Cideung dan terakhir menjadi Cideng), dan lain-lain sing masih sesuai dengan penamaan sing digambarkan dalam naskah kuno Bujangga Manik[16] sing saat iki disimpan nang perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris.

Meskipun bahasa formal sing digunakan nang Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa informal atawa bahasa percakapan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi. Untuk penduduk asli nang Kampung Jatinegara Kaum, mereka masih kukuh menggunakan bahasa leluhur mereka yaitu bahasa Sunda.

Bahasa daerah juga digunakan oleh para penduduk sing berasal dari daerah lain, seperti Jawa, Sunda, Minang, Batak, Madura, Bugis, dan juga Tionghoa. Hal demikian terjadi karena Jakarta adalah tempat berbagai suku bangsa bertemu. Untuk berkomunikasi antar berbagai suku bangsa, digunakan Bahasa Indonesia.

Selain itu, muncul juga bahasa gaul sing tumbuh nang kalangan anak muda dengan kata-kata sing kadang-kadang dicampur dengan bahasa asing. Beberapa contoh penggunaan bahasa iki adalah Please dong ah!, Cape deh!, dan So what gitu loh!.

Bahasa Inggris merupakan bahasa asing sing paling banyak digunakan, terutama untuk kepentingan diplomatik, pendidikan, dan bisnis. Bahasa Mandarin juga menjadi bahasa asing sing banyak digunakan, terutama nang kalangan pebisnis Tionghoa.

Budaya[sunting | sunting sumber]

Budaya Jakarta merupakan budaya mestizo, atawa sebuah campuran budaya dari beragam etnis. Sejak zaman Belanda, Jakarta merupakan ibu kota Indonesia sing menarik pendatang dari dalam dan luar Nusantara. Suku-suku sing mendiami Jakarta antara lain, Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan Bugis. Selain dari penduduk Nusantara, budaya Jakarta juga banyak menyerap dari budaya luar, seperti budaya Arab, Tiongkok, India, dan Portugis.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Dalam kota[sunting | sunting sumber]

Peta transportasi TransJakarta

Di DKI Jakarta, tersedia jaringan jalan raya dan jalan tol sing melayani seluruh kota, namun perkembangan jumlah mobil dengan jumlah jalan sangatlah timpang (5-10% dengan 4-5%).

Menurut data dari Dinas Perhubungan DKI, tercatat 46 kawasan dengan 100 titik simpang rawan macet nang Jakarta. Definisi rawan macet adalah arus tidak stabil, kecepatan rendah serta antrean panjang. Selain oleh warga Jakarta, kemacetan juga diperparah oleh para pelaju dari kota-kota nang sekitar Jakarta seperti Depok, Bekasi, Tangerang, dan Bogor sing bekerja nang Jakarta. Untuk nang dalam kota, kemacetan dapat dilihat nang Jalan Sudirman, Jalan Thamrin, Jalan Rasuna Said, dan Jalan Gatot Subroto terutama pada jam-jam pulang kantor.

Untuk melayani mobilitas penduduk Jakarta, pemerintah menyediakan sarana bus PPD. Selain iku terdapat pula bus kota sing dikelola oleh pihak swasta, seperti Mayasari Bhakti, Metro Mini, Kopaja, dan Bianglala. Bus-bus iki melayani rute sing menghubungkan terminal-terminal dalam kota, antara lain Pulogadung, Kampung Rambutan, Blok M, Kalideres, Grogol, Tanjung Priok, Lebak Bulus, dan Kampung Melayu.

Untuk angkutan lingkungan, terdapat angkutan kota seperti Mikrolet dan KWK, dengan rute dari terminal ke lingkungan sekitar terminal. Selain iku ada pula ojek, bajaj, dan bemo untuk angkutan jarak pendek. Tidak seperti wilayah lainnya nang Jakarta sing menggunakan sepeda motor, nang kawasan Tanjung Priok dan Jakarta Kota, pengendara ojek menggunakan sepeda ontel. Angkutan becak masih banyak dijumpai nang wilayah pinggiran Jakarta seperti nang Bekasi, Tangerang, dan Depok.

Transjakarta[sunting | sunting sumber]

Jalur Bus Transjakarta (Busway).

Sejak taun 2004, Pemerintah Daerah DKI Jakarta telah menghadirkan layanan transportasi umum sing dikenal dengan TransJakarta. Layanan iki menggunakan bus AC dan halte sing berada nang jalur khusus. Saat iki ada sepuluh koridor Transjakarta sing telah beroperasi, yaitu :

Kereta Listrik[sunting | sunting sumber]

Kereta api Listrik (KRL) Jabotabek

Selain bus kota, angkutan kota, dan bus Transjakarta, sarana transportasi andalan masyarakat Jakarta adalah kereta listrik atawa sing biasa dikenal dengan KRL Jabotabek. Kereta listrik iki beroperasi dari pagi hari hingga malam hari, melayani masyrakat penglaju sing bertempat tinggal nang seputaran Jabotabek. Ada beberapa jalur kereta listrik, yakni

  • Jalur Jakarta Kota - Bogor, lewat Gambir, Manggarai, Pasar Minggu, dan Depok
  • Jalur Jakarta Kota - Bekasi/Cikarang, lewat Pasar Senen, Jatinegara, dan Cakung
  • Jalur Jakarta Kota - Tangerang, lewat Angke, Cengkareng, dan Poris.
  • Jalur Jakarta Kota - Serpong, lewat Angke, Tanah Abang, dan Kebayoran Lama.
  • Jalur Tanah Abang - Bogor, lewat Sudirman, Manggarai, Pasar Minggu, dan Depok.
  • Jalur Tanah Abang - Bekasi, lewat Sudirman, Manggarai, Jatinegara, dan Cakung.
  • Jalur Tanjung Priok - Bekasi, lewat Pasar Senen, Jatinegara, dan Cakung.
  • Jalur Manggarai - Serpong, lewat Sudirman, Tanah Abang, Kebayoran Lama.
  • Jalur Lingkar, lewat Jakarta Kota, Pasar Senen, Jatinegara, Manggarai, dan Tanah Abang

Luar kota[sunting | sunting sumber]

Untuk ke kota-kota nang Pulau Jawa, bisa dicapai dari Jakarta dengan jaringan jalan dan beberapa ruas jalan tol. Jalan tol terbaru adalah Jalan Tol Cipularang sing mempersingkat waktu tempuh Jakarta-Bandung menjadi sekitar 1,5 - 2 jam. Selain iku juga tersedia layanan kereta api sing berangkat dari enam stasiun pemberangkatan nang Jakarta. Untuk ke Pulau Sumatera, tersedia ruas jalan tol Jakarta-Merak sing kemudian dilanjutkan dengan layanan penyeberangan dari Pelabuhan Merak ke Bakauheni. Untuk ke luar pulau dan luar negeri, Jakarta memiliki satu pelabuhan laut nang Tanjung Priok dan dua bandar udara.

Bandara sing terdapat nang Jakarta adalah:

Untuk mendukung laju mobilitas penduduk, Jakarta membangun sejumlah jalan tol yaitu Tol Dalam Kota, Tol Lingkar Luar, Tol Bandara, serta ruas tol Jakarta-Cikampek, Jakarta-Bogor-Ciawi, dan Jakarta-Merak, sing menghubungkan Jakarta dengan kota-kota nang sekitarnya. Selain itu, juga sedang dibangun ruas tol dalam kota sing menghubungkan Bekasi Utara-Cawang-Kampung Melayu. Pemerintah juga berencana membangun Tol Lingkar Luar tahap kedua sing melingkar dari Bandara Soekarno Hatta-Tangerang-Serpong-Cinere-Cimanggis-Cibitung-Tanjung Priok.

Pemda juga sedang membangun dua jalur monorel yaitu Green Line dan Blue Line, namun pembangunan monorel iki tidak berjalan lancar dan sering terhenti akibat berbagai masalah sing masih dihadapi konsorsium pembangunnya, PT Jakarta Monorail. Proyek iki diberi jeneng Monorel Jakarta. Pemerintah Daerah DKI Jakarta juga tengah mempersiapkan pembangunan kereta bawah tanah (subway) sing dananya diperoleh dari pinjaman lunak negara Jepang. Untuk lintasan kereta api, pemerintah sedang menyiapkan double-double track pada jalur lintasan kereta api Manggarai-Cikarang. Selain iku juga, saat iki sedang direncanakan untuk membangun jalur kereta api dari Manggarai menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta nang Cengkareng.

Kependudukan[sunting | sunting sumber]

taun Jumlah penduduk
1870 65.000
1875 99.100
1880 102.900
1883 97.000
1886 100.500
1890 105.100
1895 114.600
1901 115.900
1905 138.600
1918 234.700
1920 253.800
1925 290.400
1928 311.000
1930 435.184
taun/Tanggal Jumlah penduduk
1940 533.000
1945 600.000
1950 1.733.600
1959 2.814.000
31 Oktober 1961 2.906.533
24 September 1971 4.546.492
31 Oktober 1980 6.503.449
31 Oktober 1990 8.259.639
30 Juni 2000 8.384.853
1 Januari 2005 8.540.306
1 Januari 2006 7.512.323
Juni 2007 7.552.444
2010 9.588.198 *

* Sensus Penduduk 2010

Jumlah penduduk Jakarta sekitar 7.512.323 (2006), namun pada siang hari, angka tersebut akan bertambah seiring datangnya para pekerja dari kota satelit seperti Bekasi, Tangerang, Bogor, dan Depok. Kota/kabupaten sing paling padat penduduknya adalah Jakarta Timur dengan 2.131.341 penduduk, sementara Kepulauan Seribu adalah kabupaten dengan paling sedikit penduduk, yaitu 19.545 jiwa.

Etnis[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan sensus penduduk taun 1961, tercatat bahwa penduduk Jakarta berjumlah 2,9 juta sing terdiri dari orang Sunda sebanyak 32,85%, orang Jawa-Madura (25,4%), Betawi (22,9%), Tionghoa (10,1%), Minangkabau (2,1%), Sumatera Selatan (2,1%), Batak (1,0%), Sulawesi Utara (0,7%), Melayu (0,7%), Sulawesi Selatan (0,6%), Maluku dan Irian (0,4%), Aceh (0,2%), Banjar (0,2%), Nusa Tenggara Timur (0,2%), Bali (0,1%), dan keturunan asing lainnya (0,6%).[17]

Jumlah penduduk dan komposisi etnis nang Jakarta berubah dari taun ke taun. Berdasarkan sensus penduduk taun 2000, tercatat bahwa setidaknya terdapat tujuh etnis besar sing mendiami Jakarta. Suku Jawa merupakan etnis terbesar dengan populasi 35,16% penduduk kota. Populasi orang Jawa melebihi suku Betawi sing terhitung sebagai penduduk asli Jakarta. Orang Jawa banyak sing berprofesi sebagai pegawai negeri, buruh pabrik, atawa pembantu rumah tangga. Etnis Betawi berjumlah 27,65% dari penduduk kota. Mereka pada umumnya berprofesi nang sektor informal, seperti pengendara ojek, calo tanah, atawa pedagang asongan. Pembangunan Jakarta sing cukup pesat sejak awal taun 1970-an, telah banyak menggusur etnis Betawi ke pinggiran kota. Tanah-tanah milik orang Betawi nang daerah Kemayoran, Senayan, Kuningan, dan Tanah Abang, kini telah terjual untuk pembangunan sentral-sentral bisnis.

Disamping orang Jawa dan Betawi, orang Tionghoa sing telah hadir sejak abad ke-17, juga menjadi salah satu etnis besar nang Jakarta. Mereka biasa tinggal mengelompok nang daerah-daerah pemukiman mereka sendiri, sing biasa dikenal dengan istilah Pecinan. Pecinan atawa kampung Cina dapat dijumpai nang Glodok, Pinangsia, dan Jatinegara. Namun kini banyak perumahan-perumahan baru sing mayoritas dihuni oleh orang Tionghoa, seperti perumahan nang wilayah Kelapa Gading, Pluit, dan Sunter. Orang Tionghoa umumnya berprofesi sebagai pengusaha. Banyak diantara mereka sing menjadi pengusaha terkemuka, menjadi pemilik perusahaan manufaktur, perbankan, dan perdagangan ekspor-impor. Disamping etnis Tionghoa, etnis Minangkabau juga banyak sing berprofesi sebagai pedagang. nang pasar-pasar tradisional kota Jakarta, perdagangan grosir dan eceran banyak dikuasai oleh orang Minang. Disamping iku pula, banyak orang Minang sing sukses sebagai profesional, dokter, wartawan, dosen, bankir, dan ahli hukum.

Komposisi etnis kota Jakarta[sunting | sunting sumber]

Etnis Persentase
Jawa 35,16%
Betawi 27,65%
Sunda 15,27%
Tionghoa 5,53%
Batak 3,61%
Minangkabau 3,18%
Melayu 1,62%
Bugis 0,59%
Madura 0,57%
Banten 0,25%
Banjar 0,10%

*data berdasarkan Sensus Penduduk taun 2000

Agama[sunting | sunting sumber]

Grafik pembagian relatif kaum beragama nang Jakarta pada taun 2005.

Agama sing dianut oleh penduduk DKI Jakarta beragam.

Menurut data pemerintah DKI pada taun 2005, komposisi penganut agama nang kota iki adalah sebagai berikut:[18]

Jumlah umat Buddha terlihat agak besar mungkin karena umat Konghucu juga ikut tercakup nang dalamnya. Menurut data Robert Cribb[19] pada taun 1980 jumlah penganut agama iki secara relatif adalah sebagai berikut:

  • Islam 84,4%
  • Protestan 6,3%
  • Katolik 2,9%
  • Hindu dan Buddha 5,7%
  • Tidak beragama 0,3%

Masih menurut Cribb, pada taun 1971 penganut agama Kong Hu Cu secara relatif adalah 1,7%. Sensus penduduk Indonesia tidak mencatat agama sing dianut selain keenam agama sing diakui pemerintah.

Berbagai tempat peribadatan agama-agama dunia dapat dijumpai nang Jakarta. Masjid dan mushala, sebagai rumah ibadah umat Islam, tersebar nang seluruh penjuru kota, bahkan hampir nang setiap lingkungan. Masjid terbesar adalah masjid nasional, Masjid Istiqlal, sing terletak nang Lapangan Banteng. Sejumlah masjid penting lain adalah Masjid Agung Al-Azhar nang Kebayoran Baru, Masjid At Tin nang Taman Mini, dan Masjid Sunda Kelapa nang Menteng.

Sedangkan gereja besar sing terdapat nang Jakarta antara lain, Gereja Katedral Jakarta, Gereja Santa Theresia nang Menteng, dan Gereja Santo Yakobus nang Kelapa Gading untuk umat Katolik. Masih dalam lingkungan nang dekatnya, terdapat bangunan Gereja Immanuel sing terletak nang seberang Stasiun Gambir bagi umat Kristen Protestan. Selain itu, ada Gereja Koinonia nang Jatinegara, Gereja Sion nang Jakarta Kota, Gereja Kristen Toraja nang Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Bagi umat Hindu sing bermukim nang Jakarta dan sekitarnya, terdapat Pura Adhitya Jaya sing berlokasi nang Rawamangun, Jakarta Timur, dan Pura Segara nang Cilincing, Jakarta Utara. Rumah ibadah umat Buddha antara lain Vihara Dhammacakka Jaya nang Sunter, Vihara Theravada Buddha Sasana nang Kelapa Gading, dan Vihara Silaparamitha nang Cipinang Jaya. Sedangkan bagi penganut Konghucu terdapat Kelenteng Jin Tek Yin. Jakarta juga memiliki satu sinagoga sing digunakan oleh pekerja asing Yahudi.[rujukan?]

pemerentahan[sunting | sunting sumber]

Dasar hukum bagi DKI Jakarta adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 taun 2007, tentang pemerentahan Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia. UU iki menggantikan UU Nomor 34 taun 1999 tentang pemerentahan Propinsi Daerah Khusus Ibu kota Negara Republik Indonesia Jakarta serta UU Nomor 11 taun 1990 tentang Susunan pemerentahan Daerah Khusus Ibu kota Negara Republik Indonesia Jakarta sing keduanya tidak berlaku lagi.

Jakarta berstatus setingkat Propinsi dan dipimpin oleh seorang gubernur. Berbeda dengan Propinsi lainnya, Jakarta hanya memiliki pembagian nang bawahnya berupa kota administratif dan kabupaten administratif, sing berarti tidak memiliki perwakilan rakyat tersendiri. Dengan demikian, DKI Jakarta hanya memiliki DPRD Propinsi dan tidak memiliki DPRD Kabupaten/Kota.

Pembagian administratif[sunting | sunting sumber]

Peta DKI Jakarta tanpa Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu.

DKI Jakarta nduweni status khusus yaiku dadi Daerah Khusus Ibukota. DKI Jakarta iki dibagi maring lima kota lan siji kabupaten, yaiku:

Kabupaten[sunting | sunting sumber]

  1. Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu

Kota[sunting | sunting sumber]

  1. Kota Administrasi Jakarta Barat
  2. Kota Administrasi Jakarta Pusat
  3. Kota Administrasi Jakarta Selatan
  4. Kota Administrasi Jakarta Timur
  5. Kota Administrasi Jakarta Utara


Gubernur[sunting | sunting sumber]

Daftar gubernur sing tau mréntah DKI Jakarta

No Jeneng Masa Jabatan Keterangan
1
Suwiryo.jpg
Suwiryo
1945-1947 Dadi Walikota Jakarta
2
Daan Jahja.jpg
Daan Jahja
1948-1950 Dadi Walikota Jakarta
3
Suwiryo.jpg
Suwiryo
1950-1951 Dadi Walikota Jakarta
4
Syamsurijal.jpg
Syamsurijal
1951-1953 Dadi Walikota Jakarta
5
Sudiro.jpg
Sudiro
1953-1960 Dadi Walikota Jakarta
6
Dr.H.Soemarno.gif
Dr. Soemarno
1960-1964 Masa jabatan pertama
7
Henk Ngantung2.JPG
Henk Ngantung
1964-1965
8
Dr.H.Soemarno.gif
Dr. Soemarno
1965-1966 Masa jabatan keloro
No Jeneng Masa Jabatan Keterangan
9
Ali sadikin.jpg
Ali Sadikin
1966-1977
10
Tjokropranolo2.jpg
Tjokropranolo
1977-1982
11
R Soeprapto1.JPG
Soeprapto
1982-1987
12
Wiyogo dan Ali Sadikin.jpg
Wiyogo Atmodarminto
1987-1992
13
Soerjadi Soedirdja.jpg
Soerjadi Soedirdja
1992-1997
14
Sutiyoso.jpg
Sutiyoso
1997-2002 Masa jabatan pertama
15
Sutiyoso.jpg
Sutiyoso
2002-2007 Masa jabatan keloro
16
Fauzi Bowo Canisius.jpg
Fauzi Bowo
2007-2012


Perwakilan[sunting | sunting sumber]

DKI Jakarta memiliki 21 perwakilan nang DPR (dari tiga daerah pemilihan) dan empat orang untuk DPD. Keempat anggota DPD untuk periode 2009-2014 adalah H. Dani Anwar, Drs.H. A.M. Fatwa, H. Djan Faridz, dan Pardi.[20]

Berdasarkan hasil Pemilu Legislatif 2009, DPRD Jakarta (total 94 kursi) tersusun dari[21]

Partai Kursi  %
Partai Demokrat 32 34
PKS 18 19
PDI-P 11 12
Partai Golkar 7 7
PPP 7 7
Gerindra 6 6
Partai Hanura 4 4
PDS 4 4
PAN 4 4
PKB 1 1

Mayoritas dari anggota iki adalah wajah baru (70/94, sekitar 74%), dengan proporsi anggota perempuan 27/94 (meningkat dari periode sebelumnya, 11/56).[22]

Kedutaan besar[sunting | sunting sumber]

Lihat pula: Daftar kedutaan besar nang Jakarta

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

DKI Jakarta menyediakan sarana pendidikan dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Kualitas dari pendidikan pun juga sangat bervariasi dari gedung mewah ber-AC sampai sing sederhana.

Belakangan iki mulai muncul berbagai sekolah dengan kurikulum sing diserap dari negara lain seperti Singapura dan Australia. Sekolah lain dengan kurikulum Indonesia pun juga muncul dengan metode pengajaran sing berbeda, seperti Sekolah Dasar Islam Terpadu. Selain sekolah sing didirikan oleh pemerintah, banyak pula sekolah sing dikembangkan oleh pihak swasta, seperti Al-Azhar, Muhammadiyah, BPK Penabur, Kolese Kanisius (Canisius College ; CC), Don Bosco, Tarakanita, Santa Ursula dan Marsudirini.

DKI Jakarta juga menjadi lokasi berbagai universitas terkemuka, antara lain :

Lihat pula: Daftar perguruan tinggi swasta nang Jakarta

Lingkungan[sunting | sunting sumber]

Pada taun 2004, untuk kesekian kalinya, Kota Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan meraih penghargaan Bangun Praja kategori "Kota Terbersih dan Terindah nang Indonesia" (dulu disebut "Adipura"). Salah satu faktor penentu keberhasilan kedua kota tersebut adalah keberadaan kawasan Menteng dan Kebayoran Baru sing asri dan bersih.

Selain Menteng dan Kebayoran Baru, banyak wilayah lain nang Jakarta sing sudah bersih dan teratur. Pemukiman iki biasanya dikembangkan oleh pengembang swasta, dan menjadi tempat tinggal masyarakat kelas menengah. Pondok Indah, Kelapa Gading, Pulo Mas, dan Cempaka Putih, beberapa wilayah pemukiman sing bersih dan teratur. Namun nang beberapa wilayah lain Jakarta, masih nampak pemukiman kumuh sing belum teratur. Pemukiman kumuh iki berupa perkampungan dengan tingkat kepadatan penduduk cukup tinggi, serta banyaknya rumah sing dibangun secara berhimpitan nang dalam gang-gang sempit. Beberapa wilayah nang Jakarta sing memiliki kepadatan penduduk cukup tinggi antara lain, Tanjung Priok, Galur, Pademangan, Sawah Besar, dan Tambora.

Tata ruang kota sing sering berubah-ubah, menyebabkan polusi udara dan banjir sulit dikendalikan. Walaupun pemerintah telah menetapkan wilayah selatan Jakarta sebagai daerah resapan air, namun ketentuan tersebut sering dilanggar dengan terus dibangunnya perumahan serta pusat bisnis baru. Beberapa wilayah sing diperuntukkan untuk pemukiman, banyak sing beralih fungsi menjadi tempat komersial.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Marka tanah, museum, dan tempat pariwisata sing terkenal nang Jakarta antara lain:

Wisata Belanja[sunting | sunting sumber]

Dalam rangka menciptakan Jakarta sebagai kota tujuan wisata belanja, pemerintah mengadakan program "Enjoy Jakarta". Program iki salah satunya diadakan nang pusat-pusat perbelanjaan sing terdapat nang Jakarta. Untuk mewujudkan Jakarta sebagai tujuan wisata belanja sing unggul, pemerintah saat iki sedang mengembangkan poros Casablanca-Satrio sebagai poros wisata belanja. nang poros ini, selain sudah ada pusat perbelanjaan Mal Ambassador dan ITC Kuningan, nantinya juga hadir pusat perbelanjaan Ciputra World, Kuningan City, dan Kota Casablanca. Rasuna Epicentrum sing tak jauh dari poros itu, akan diintegrasikan ke dalam poros wisata belanja Casablanca-Satrio.

Pusat perbelanjaan[sunting | sunting sumber]

Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat.

Sejak awal taun 1910, Pemerintah DKI Jakarta gencar membangun pusat-pusat perbelanjaan modern, atawa biasa sing dikenal dengan mal dan plaza. Saat iki Jakarta merupakan salah satu kota nang Asia sing banyak memiliki pusat perbelanjaan.[23] Beberapa pusat perbelanjaan modern nang Jakarta memiliki luas sing cukup besar (lebih dari 100.000 m2), dan beberapa luasnya nang bawah 100.000 m2. Pusat perbelanjaan nang Jakarta diantaranya ialah :

Di pusat-pusat perbelanjaan tersebut hadir berbagai waralaba internasional seperti Starbucks, Sogo, jaringan restoran siap saji McDonalds. Selain itu, perusahaan-perusahaan waralaba nasional juga memenuhi ruang pusat-pusat perbelanjaan tersebut, seperti Es Teler 77, J.Co, dan Bakmie Gajah Mada. Selain pusat perbelanjaan tersebut masih banyak pusat perbelanjaan besar maupun kecil sing berada nang Jakarta. Beberapa kawasan belanja nang Jakarta adalah Pluit, Mangga Dua, Kelapa Gading, Cempaka Mas, Roxy Mas, Slipi, Senayan, Semanggi, Bundaran Hotel Indonesia, Kuningan, Cibubur, Kalibata, Pondok Indah, Cilandak, dan Puri Indah.

Di samping pusat-pusat perbelanjaan mewah, Jakarta juga memiliki banyak pasar-pasar tradisional dan pusat perdagangan grosir, antara lain Pasaraya Grande, Sarinah Department Store, ITC Mangga Dua, ITC Cempaka Mas, ITC Roxy Mas, Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang sing menjadi pusat grosir tekstil terbesar nang Asia Tenggara. Selain itu, terdapat pula hypermarket sing menjadi tren belanja kalangan menengah nang Jakarta, antara lain Carrefour, Hypermart, Giant, Ranch Market, dan Makro. Untuk lingkup lingkungan, juga tersedia pusat belanja kebutuhan sehari-hari dengan harga sing terjangkau seperti Indomaret dan Alfamart. nang Jakarta juga terdapat banyak pasar tradisional seperti Pasar Baru, Pasar Minggu, Pasar Palmerah, dll. nang Jakarta terdapat beberapa pasar barang-barang sing unik dan antik seperti Jalan Surabaya dan Pasar Rawabening.

Olahraga[sunting | sunting sumber]

Sejak masa Presiden Soekarno hingga saat ini, Jakarta sering menjadi tempat penyelenggaraan event-event olahraga berskala internasional, nang antaranya pernah menjadi tuan rumah Asian Games nang taun 1962, Piala Asia nang taun 2007 dan beberapa kali menjadi tuan rumah Pesta Olahraga bangsa-bangsa Asia Tenggara atawa sing lebih dikenal dengan Sea Games. Mayoritas masyarakat Jakarta gemar berolahraga. Sepak bola merupakan cabang permainan sing banyak diminati masyarakat, nang samping bulu tangkis, bola voli, dan bola basket. Jakarta memiliki beberapa klub sepak bola profesional. Diantaranya Persija Jakarta Pusat dan Persitara Jakarta Utara, sing saat iki ikut berlaga nang kompetisi Liga Super Indonesia.

Tempat-tempat olahraga nang Jakarta antara lain: Gelora Bung Karno Senayan nang Jakarta Pusat; Stadion Lebak Bulus, GOR Bulungan, Lapangan Golf Pondok Indah, Lapangan Golf Matoa, dan GOR Soemantri Brodjonegoro Kuningan nang Jakarta Selatan; Stadion Tugu, Stadion Kamal, Gedung Basket Kelapa Gading, Lapangan Golf Ancol, dan Sports Mall Kelapa Gading nang Jakarta Utara; Stadion Bea Cukai Rawa Mangun, Lapangan Golf Rawa Mangun, Pacuan Kuda Pulo Mas, dan Gedung Senam DKI Radin Inten nang Jakarta Timur

Media[sunting | sunting sumber]

Jakarta menjadi lokasi kantor pusat hampir seluruh media nasional baik surat kabar, majalah, situs berita, radio, ataupun televisi.

Surat kabar[sunting | sunting sumber]

Beberapa surat kabar sing terbit nang Jakarta antara lain: Kompas, Harian Pelita, Suara Pembaruan, Indo Pos, Koran Jakarta, The Jakarta Post, Jurnal Nasional, Bisnis Indonesia, Investor Daily, Seputar Indonesia, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, Pos Kota, Warta Kota, Rakyat Merdeka, Lampu Hijau, Non'stop.

Televisi[sunting | sunting sumber]

TVRI adalah stasiun televisi milik pemerintah sing berpusat nang Jakarta. Selain TVRI beberapa stasiun televisi swasta lainnya juga berpusat nang Jakarta: RCTI, SCTV, MNCTV, antv, Indosiar, MetroTV, Trans TV, Trans7, tvOne, Global TV.

Stasiun televisi lokal sing hanya mengudara nang wilayah Jabodetabek antara lain: JakTV, O Channel, Spacetoon, Elshinta TV, Da Ai TV.

Radio[sunting | sunting sumber]

Jakarta memiliki berbagai stasiun radio yaitu, beberapa nang antaranya:

  • Mustang 88 FM
  • Ramako 105.8
  • Radio A 96.7 FM
  • Delta 99.1 FM
  • Female Radio 97.9 FM
  • Hard Rock 87.6 FM
  • Cosmopolitan 90.4 FM
  • ARH Global 88.4 FM
  • Gen FM 98.7 FM
  • Motion Radio 97.5 FM
  • R.D TPI 97.1 FM
  • M Radio 106.6 FM
  • JakFM 101.0 FM
  • Radio SSK 107.9 FM

Permasalahan[sunting | sunting sumber]

Kawasan kumuh nang Jakarta.

Permasalahan sosial[sunting | sunting sumber]

Sebagaimana umumnya kota megapolitan, kota sing berpenduduk diatas 10 juta, Jakarta memiliki masalah stress, kriminalitas, dan kemiskinan. Penyimpangan peruntukan lahan dan privatisasi lahan telah menghabiskan persediaan taman kota sehingga menambah tingkat stress warga Jakarta. Kemacetan lalu lintas, menurunnya interaksi sosial karena gaya hidup individualistik juga menjadi penyebab stress. Tata ruang kota sing tidak partisipatif dan tidak humanis menyisakan ruang-ruang sisa sing mengundang tindak laku kriminal. Penggusuran kampung miskin dan penggusuran lahan usaha informal oleh pemerintah DKI adalah penyebab aktif kemiskinan nang DKI.

Jumlah pendatang nang Jakarta (2002-2005)[sunting | sunting sumber]

taun Eksodus Influks Perbedaan
2002 2.643.273 2.874.801 231.528
2003 2.816.384 3.021.214 204.830
2004 2.213.812 2.404.168 190.356
2005  ? 200.000-250.000*

Catatan: * perkiraan
Sumber: Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil Propinsi DKI Jakarta

Banjir[sunting | sunting sumber]

Pembangunan tanpa kendali nang wilayah hilir, penyimpangan peruntukan lahan kota, dan penurunan tanah akibat eksploitasi air oleh industri, menyebabkan turunnya kapasitas penyaluran air sistem sungai, sing menyebabkan terjadinya banjir besar nang Jakarta.

Untuk memperbaiki keadaan, Jakarta membangun dua banjir kanal, yaitu Banjir Kanal Timur dan Banjir Kanal Barat. Banjir Kanal Timur mengalihkan air dari kali Cipinang ke arah timur, melalui daerah Pondok Bambu, Pondok Kopi, Cakung, sampai Cilincing. Sedangkan Banjir Kanal Barat sing telah dibangun sejak zaman kolonial Belanda, mengaliri air melalui Karet, Tanahabang, sampai Angke. Selain iku Jakarta juga memiliki dua drainase, yaitu Cakung Drain dan Cengkareng Drain.

Makanan[sunting | sunting sumber]

Jakarta merupakan kota internasional sing banyak menyajikan makanan khas dari seluruh dunia. nang wilayah-wilayah sing banyak didiami oleh para ekspatriat asing, seperti nang daerah Menteng, Kemang, Pondok Indah, dan daerah pusat bisnis Jakarta, tidak sulit untuk menjumpai makanan-makanan khas asal Eropa, China, Jepang dan Korea. Makanan-makanan iki biasanya dijual dalam restoran-restoran mewah.

Di Jakarta, dan sepeti kota-kota besar lainnya nang Indonesia, Rumah Makan Padang sing paling banyak dijumpai. Hampir nang seluruh tempat nang Jakarta, dengan mudah dijumpai rumah makan sing manyajikan masakan asal Minang iki. Jakarta juga memiliki makanan khasnya, sing paling terkenal adalah Kerak Telor, Soto Betawi, Kue Ape, Roti Buaya, dll.

Selain iku nang Jakarta juga bisa ditemukan makanan tradisional dari daerah misalnya makanan khas Jawa Timur dan Bali sing disajikan nang Restoran Pondok Prapanca berupa Rawon, Soto Sulung, Rujak Cingur, Nasi Bali, Sate Bali. Malah tersedia juga Kupang Lontong dan Semanggi Surabaya.

Kota kembar[sunting | sunting sumber]

Kota-kota sing memiliki hubungan kota kembar dengan Jakarta adalah:

Cithakan:Col-3

Cithakan:Col-3

Cithakan:Col-3

Deleng uga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Setiawati I. Jakarta’s population surpasses 15-year forecast. The Jakarta Post, 19-08-2010.
  2. ^ http://sp2010bpsdki.ueuo.com/Tabelsensus.htm Penduduk Jakarta hasil Supas 2005, versi BPS Jakarta
  3. ^ Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Institute of Southeast Asian Studies. 31 Agustus 2003. ISBN 9812302123. 
  4. ^ Miturut data resmi Dinas Kependudukan Jakarta taun 2005)
  5. ^ Biro Pusat Statistik 2010
  6. ^ Turner, Peter (31 Agustus 1997). Java (edisi ke-1st edition). Melbourne: Lonely Planet Publications. hlm. p. 37. ISBN 0-86442-314-4. 
  7. ^ "Jakarta: When to Go". Lonely Planet. Lonely Planet Publications. 31 Agustus 2008. http://www.lonelyplanet.com/worldguide/indonesia/jakarta/when-to-go. Diakses pada 6 Oktober 2008. 
  8. ^ "World Weather Information Service - Jakarta". http://worldweather.wmo.int/043/c00310.htm. 
  9. ^ "Taman Medan Merdeka (Indonesian)". Dartmouth deskominfomas. Jakarta.go.id. http://www.jakarta.go.id/v70/index.php/en/taman-kota/521-taman-medan-merdeka. 
  10. ^ "Taman Suropati (Indonesian)". deskominfomas. Jakarta.go.id. http://www.jakarta.go.id/v70/index.php/en/taman-kota/529-taman-suropati. 
  11. ^ "Taman Lapangan Banteng (Indonesian)". deskominfomas. Jakarta.go.id. http://www.jakarta.go.id/v70/index.php/en/taman-kota/523-taman-lapangan-banteng. 
  12. ^ Wijayakusuma, H.M. Hembing. Pembantaian Massal 1740, Tragedi Berdarah Angke. Pustaka Populer Obor. 
  13. ^ Jakarta 1960-an: Kenangan Semasa Mahasiswa, Firman Lubis, Masuo Jakarta, 2008 ISBN 979-3731-46-X
  14. ^ Jakarta Kini
  15. ^ Tak ada Krisis untuk Konsumtivisme. http://epaper.kompas.com/. Kaluputan: wektu ora absah. 
  16. ^ Three Old Sundanese Poems. KITLV Press. 31 Agustus 2007. 
  17. ^ Jakarta 1960-an: Kenangan Semasa Mahasiswa, Firman Lubis, Masuo Jakarta, 2008 ISBN 979-3731-46-X
  18. ^ Data pemerentahan tidak ikut menghitung data kependudukan kecamatan Pesanggrahan dan Cilandak nang Jakarta Selatan. Kedua kecamatan iki penduduknya adalah 300.000 jiwa atawa sekitar 4 % penduduk Jakarta. Data iki tidak mencatat para penganut agama Kong Hu Cu
  19. ^ Data Robert Cribb, Historical Atlas of Indonesia (2000:47-51)
  20. ^ Hasil Peroleh Suara DPD DKI Jakarta
  21. ^ Jakarta wraps up vote recapitulation, Democratic Party leads. The Jakarta Post. Edisi 2 Mei 2009 daring. Diakses 2 Mei 2009.
  22. ^ 74 Persen Anggota DPRD DKI Wajah Baru. Kompas daring. 4-5-2009.
  23. ^ http://www.expat.or.id/info/jakartamallsshoppingcenters.html

Pranala jaba[sunting | sunting sumber]

 d  b  s 
Kota-kota gede nang Indonesia
  Kota Propinsi Populasi     Kota Propinsi Populasi
1 Jakarta DKI Jakarta 9.588.198 Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
7 Depok Jawa Barat 1.751.696
2 Surabaya Jawa Timur 2.765.908 8 Semarang Jawa Tengah 1.553.778
3 Bandung Jawa Barat 2.417.584 9 Palembang Sumatera Selatan 1.452.840
4 Bekasi Jawa Barat 2.336.489 10 Makassar Sulawesi Selatan 1.339.374
5 Medan Sumatera Utara 2.109.339 11 Tangerang Selatan Banten 1.303.569
6 Tangerang Banten 1.797.715 12 Bogor Jawa Barat 952.406

Koordinat: 6°11′ LS 106°50′ BT