Kota Salatiga

Sekang Wikipédia, Ènsiklopédhi Bébas basa Banyumasan: dhialék Banyumas, Tegal, Cirebon karo Jawa Serang/Banten lor.
Mlumpat maring: navigasi, goleti


Kota Salatiga
Lambang Kota Salatiga.png
Lambang Kota Salatiga
Motto: Çrir Astu Swasti Prajabhyah


Locator kota salatiga.gif
Peta lokasi Kota Salatiga
Koordinat: 110 ° 28' 37.79" - 110o 32' 39.79" BT
Propinsi Jawa Tengah
Dina dadi {{{hari jadi}}}
Dasar hukum UU No. 13/1950
Tanggal -
Pemerentahan
 - Walikota John Manuel Manoppo SH
 - {{{wakil kepala daerah}}} {{{nama wakil kepala daerah}}}
 - Ketua DPRD {{{nama ketua DPRD}}}
 - DAU Rp. 124.117.000.000
Wewengkon 17,87 km²
Populasi
 - Total 176.000 (2007) {{{penduduktahun}}}
 - Kepadhetan 9.849
Demografi
 - Basa {{{bahasa}}}
 - Zona wektu {{{zona waktu}}}
 - Kode area telepon 0298
Pembagean administratif
 - Kecamatan 4
 - Kelurahan 22
 - Situs web http://www.pemkot-salatiga.go.id

Kota Salatiga, kuwe salah siji kota nang Propinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kota kiye jejeran karo Kabupaten Semarang. Salatiga manggone 49 km nang sisi kidul Kota Semarang atawa 52 km sisi lor Kota Surakarta, lan ana nang jalan negara sing nggandhengna Semarang-Surakarta. Salatiga kuwe nduwe 4 kecamatan, yakuwe Argomulyo, Tinggkir, Sidomukti, lan Sidorejo. Kota kiye ana nang sisi wetan Gunung Merbabu, sing marekna kota kiye udarane dadi cukup sejuk.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Ana pirang sumber sing didadikna dasar kanggo ngungkapna asal-usulé Salatiga, yakuwe sekang cerita rakyat, prasasti atawa penelitian lan kajian sing cukup detail. Sekang pirang-pirang sumber kuwe Prasasti Plumpungan sing didadikna dasar asal-usul Kota Salatiga. Adhedhasar prasasti kiye Dina Dadiné Kota Salatiga dibakukna, yakuwe tanggal 24 Juli 750 sing ditetapna nganggo Peraturan Daerah Tingkat II Kota Salatiga Nomor 15 Taun 1995 tentang Dina Dadi Kota Salatiga.

Prasasti Plumpungan[sunting | sunting sumber]

Prasasti Plumpungan

Prasasti Plumpungan, cikal bakal laire Salatiga, ditulis nang watu gede jenis andesit sing dawané 170cm, ambané 160cm, garis lingkar 5 meter. Adhedhasar prasasti nang Dukuh Plumpungan, Desa Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo kuwe, Salatiga uwis ana wiwit taun 750 Masehi. Nang jaman semono Salatiga esih wujud perdikan.

Perdikan kuwe artine sawijining daerah nang wilayah kerajaan. Daerah kiye dibebasna sekang kabeh kewajiban pajak atawa upeti jalaran daerah kuwe nduwe kekhususan tertentu, daerah kuwe kudu digunakna sesuai karo kekhususan sing dimiliki. Wilayah perdikan diwenehna nang Raja Bhanu meliputi Salatiga lan sekitare.

Menurut sejarahnya, di dalam Prasasti Plumpungan berisi ketetapan hukum, yaitu suatu ketetapan status tanah perdikan atau swantantra bagi Desa Hampra. Pada zamannya, penetapan ketentuan Prasasti Plumpungan ini merupakan peristiwa yang sangat penting, khususnya bagi masyarakat di daerah Hampra. Penetapan prasasti merupakan titik tolak berdirinya daerah Hampra secara resmi sebagai daerah perdikan atau swantantra. Desa Hampra tempat prasasti itu berada, kini masuk wilayah administrasi Kota Salatiga. Dengan demikian daerah Hampra yang diberi status sebagai daerah perdikan yang bebas pajak pada zaman pembuatan prasasti itu adalah daerah Salatiga sekarang ini.

Konon, para pakar telah memastikan bahwa penulisan Prasasti Plumpungan dilakukan oleh seorang citralekha (penulis) disertai para pendeta (resi). Raja Bhanu yang disebut-sebut dalam prasasti tersebut adalah seorang raja besar pada zamannya yang banyak memperhatikan nasib rakyatnya.

Isi Prasasti Plumpungan ditulis dalam Bahasa Jawa Kuno dan Bahasa Sansekerta. Tulisannya ditatah dalam petak persegi empat bergaris ganda yang menjorok ke dalam dan keluar pada setiap sudutnya.

Dengan demikian, pemberian tanah perdikan merupakan peristiwa yang sangat istimewa dan langka, karena hanya diberikan kepada desa-desa yang benar-benar berjasa kepada raja. Untuk mengabadikan peristiwa itu maka raja menulis dalam Prasasti Plumpungan Srir Astu Swasti Prajabhyah, yang artinya: "Semoga Bahagia, Selamatlah Rakyat Sekalian". Ditulis pada hari Jumat, tanggal 24 Juli tahun 750 Masehi.

Zaman kolonial[sunting | sunting sumber]

Lukisan oleh Josias Cornelis Rappard sing nggambarna gereja nang Salatiga (taun 1880-an)
Dalan nang Salatiga taun 1918

Salatiga pada masa kolonial tercatat sebagai tempat ditandatanganinya perjanjian antara Pangeran Sambernyawa atau Raden Mas Said (kelak menjadi KGPAA Mangkunegara I) di satu pihak dan Kasunanan Surakarta dan VOC di pihak lain. Perjanjian ini menjadi dasar hukum berdirinya Kadipaten Mangkunegaran.

Pada zaman penjajahan Belanda telah cukup jelas batas dan status Kota Salatiga, berdasarkan Staatsblad 1917 No. 266 Mulai 1 Juli 1917 didirikan Stadsgemeente Salatiga yang daerahnya terdiri dari 8 desa.

Karena dukungan faktor geografis, udara sejuk dan letak yang sangat strategis, maka Salatiga cukup dikenal keindahannya di masa penjajahan Belanda, bahkan sempat memperoleh julukan "Kota Salatiga yang Terindah di Jawa Tengah".

Zaman kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Kotamadya Daerah Tingkat II Salatiga adalah bekas stadsgemeente yang dibentuk berdasarkan Staatsblad 1929 No. 393 yang kemudian dicabut dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kecil Dalam Lingkungan Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Salatiga terletak di ketinggian 750-850 mdpl, dan terletak di lereng timur Gunung Merbabu yang membuat daerah Salatiga menjadi lebih sejuk. Pemandangan Gunung Ungaran, Gunung Telomoyo, dan Gunung Merbabu yang indah membuat Salatiga menjadi daerah yang indah dan spektakuler. Seluruh Wilayah Salatiga dibatasi oleh Kabupaten Semarang, antara lain di bagian utara berbatasan dengan Kecamatan Tuntang dan Kecamatan Pabelan, di bagian selatan berbatasan dengan Kecamatan Tengaran, di bagian barat berbatasan dengan Kecamatan Tuntang dan Kecamatan Getasan, di bagian timur berbatasan dengan Kecamatan Tengaran dan Kecamatan Pabelan.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Di kota ini terdapat Universitas Kristen Satya Wacana, salah satu universitas swasta ternama di Indonesia, yang pernah terkenal di tahun 80-an karena kekritisan para mahasiswa dan dosennya terhadap Pemerintah Orde Baru. Sekolah-sekolah menengah di Salatiga melalui Internet dihubungkan dalam Jaringan Pendidikan Salatiga. Adapun sekolah-sekolah menengah di Salatiga antara lain SMA Negeri 1 Salatiga, SMA Negeri 2 Salatiga, SMA Negeri 3 Salatiga, dan beberapa SMA swasta. Ada pula SMK Negeri 1 Salatiga, SMK Negeri 2 Salatiga, SMK Negeri 3 Salatiga dan beberapa SMK swasta.

Di Salatiga ada 10 SMP Negeri, 1 MTs Negeri dan beberapa SMP swasta seperti SMP Stella Matutina, SMP Kristen 1, SMP Kristen 2, dan SMP Laboratorium Satya Wacana. Adapun beberapa SD Negeri yang tersebar di banyak daerah dan juga swasta yang banyak terpusat diperkotaan.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Salatiga memiliki dua terminal, yang bernama Tingkir yang melayani bis tujuan AKDP Jateng dan AKAP Jateng, seperti Jakarta hingga Denpasar, Bali, dan Tamansari yang melayani jalur dalam kota. Untuk transportasi massal, Salatiga memiliki angkutan dengan tujuan beberapa daerah di sekitar Salatiga.

Pranala jaba[sunting | sunting sumber]