Kabupaten Banyumas: Béda antarané révisi

Sekang Wikipedia, Ensiklopedia Bebas sing nganggo Basa Banyumasan: dhialek Banyumas, Purbalingga, Tegal lan Purwokerto.
Konten dihapus Konten ditambahkan
Baris 273: Baris 273:
== Pranala Jaba ==
== Pranala Jaba ==
* [http://www.banyumas.go.id/ Situs Resmi Pemkab Banyumas]
* [http://www.banyumas.go.id/ Situs Resmi Pemkab Banyumas]
* [http://www.potreto.com/ kata kata]
* [http://www.portalbanyumas.com/portal/index.php Situs Portal Banyumas]
* [http://www.portalbanyumas.com/portal/index.php Situs Portal Banyumas]
* [http://www.serayunet.com/ Situs Banyumas basa Inggris]
* [http://www.serayunet.com/ Situs Banyumas basa Inggris]

Revisi per 8 Maret 2015 20.49

Kabupaten Banyumas

Lambang Kabupaten Banyumas
Moto: Rarasing Rasa Wiwaraning Praja
Slogan pariwisata: Satria (Sejahtera, Adil, Tertib, Rapi, Indah lan Aman)



Peta lokasi Kabupaten Banyumas
Koordinat: 7°25'26.85"S - 109°13'48.59"T 7°25′26.85″LS,109°13′48.59″T
Provinsi Jawa Tengah
Dasar hukum UU No. 13/1950
Tanggal Peresmian -
Ibu kota Purwokerto
Pemerintahan
 - Bupati Drs. H. Mardjoko
 - DAU Rp. 404.114.000.000
Luas {{{luas}}}
Populasi
 - Total {{{penduduk}}}
 - Kepadatan {{{kepadatan}}}
Demografi
 - Kode area telepon 0281
Pembagian administratif
 - Kecamatan 27
 - Kelurahan 331
Simbol khas daerah
 - Situs web www.banyumaskab.go.id
Kediaman resident Banyumas nang taun 1905
Sociëteit "De Harmonie" (klub untuk orang Belanda) nang Banyumas (1900-1905)

Kabupaten Banyumas kuwe salah siji kabupaten nang Jawa Tengah sing enggone nang sisi kidul Gunung Slamet, kota Purwokerto kuwe ibukota kabupatene, kota-kota liyane : Wangon, Ajibarang, Banyumas, Sokaraja, Patikraja, Tambak lly. Luas wilayah Kabupaten kiye ± 1.327,59 Km2 Jumlah Penduduk: 1,7 juta jiwa.

Geografis

Enggon Wilayah : 108 0 ‘ 17 ”- 109 0 27’15” Bujur wetan karo 7 0 15 ‘05” – 7 0 37 ‘10” Lintang kidul.

Bates Wilayah : Sisi wetan batese karo Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara uga Kabupaten Kebumen, sisi kidul batese karo Kabupaten Cilacap, sisi kulon batese karo Kabupaten Cilacap, Kabupaten Brebes. Sisi lor batese karo Kabupaten Tegal uga karo Kabupaten Pemalang.

Jarak Kabupaten Banyumas karo kota-kota sekitare nang wilayah Banyumasan yakuwe:

Pembagian Administratif

Kabupaten Banyumas nduwe 27 kecamatan, 301 desa lan 30 kelurahan. Ibukota Kabupaten Banyumas adalah Purwokerto, dimana meliputi kecamatan Purwokerto Barat, Purwokerto Timur, Purwokerto Selatan, dan Purwokerto Utara. Purwokerto dulunya merupakan Kota Administratif, namun sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, tidak dikenal adanya kota administratif, dan Purwokerto kembali menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Banyumas. Diantara kota-kota kecamatan yang cukup signifikan di Kabupaten Banyumas adalah: Banyumas, Ajibarang, Wangon, Sokaraja, Tambak dan Sumpyuh .

Kepala Pemerintahan

  1. R. Djoko Kahiman, Adipati Warga Utama II (1582-1583)
  2. R. Ngabehi Merta Sura (1583-1600)
  3. R. Ngabehi Merta Sura II, Ngabehi Kalidethuk (1601 - 1620)
  4. R. Adipati Mertayuda I, Ngabehi Bawang (1620 - 1650)
  5. R. Tumenggung Mertayuda II, R.T Seda Masjid/RT. Yudanegara I (1650-1705)
  6. R. Tumenggung Suradipura (1705 - 1707)
  7. R. Tumenggung Yudanegara II, RT. Seda Pendapa (1745)
  8. R. Tumenggung Reksa Praja (1749)
  9. R. Tumenggung Yudanegara III (1755) kemudian diangkat menjadi Patih Sultan Yogyakarta dan bergelar Danureja I
  10. R. Tumenggung Yudanegara IV (1780)
  11. R. Tumenggung Tejakusuma, Tumenggung Keong (1788)
  12. R. Tumenggung Yudanegara V (1816)
  13. Kasepuhan : R. Adipati Cokronegara (1816 - 1830) Kanoman : R. Adipati Broto Diningrat (RT. Martadireja)
  14. RT. Martadireja II (1832 - 1882) kemudian pindah ke Purwokerto (Ajibarang)
  15. R. Adipati Cokronegara I (1832 - 1864)
  16. R. Adipati Cokronegara II (1864 - 1879)
  17. Kanjeng Pangeran Arya Martadiredja III (1879 - 1913)
  18. KPAA Ganda Subrata (1913 - 1933)
  19. RAA. Sujiman Gandasubrata (1933 - 1950)
  20. R. Moh. Kabul Purwodireja (1950 - 1953)
  21. RE. Budiman (1953 - 1957)
  22. M. Mirun Prawiradireja (30 Januari 1957 s/d 15 Desember 1957)
  23. R. Bayu Nuntoro (15 Desember 1957 - 1960)
  24. R. Subagyo (1960 - 1966)
  25. Letkol Inf. Soekarno Agung (1966 -1971)
  26. Kol. Inf. Pudjadi Jaring Bandayuda (1971 - 1978)
  27. Kol. Inf. RG. Rudjito (1978 - 1988)
  28. Kol. Inf. Djoko Sudantoko, S.Sos. (1988 - 1998)
  29. Kol. Art. HM. Aris Setiono, SH, S.IP (1998 - 2008)
  30. Drs.H.Mardjoko (2008 - 2013)
  31. Ahmad Husein (2013-sekarang)

Budaya

Budaya Banyumasan memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan wilayah lain di Jawa Tengah, walaupun akarnya masih merupakan budaya Jawa.

Diantara seni pertunjukan yang terdapat di Banyumas antara lain:

  • Wayang kulit gagrag Banyumas, yaitu kesenian wayang kulit khas Banyumasan. Terdapat dua gagrak (gaya), yakni Gragak Kidul Gunung dan Gragak Lor Gunung. Kekhasan wayang kulit gragak Banyumasan adalah nafas kerakyatannya yang begitu kental dalam pertunjukannya.
  • Begalan, adalah seni tutur tradisional yang pada upacara pernikahan. Kesenian ini menggunakan peralatan dapur yang memiliki makna simbolis berisi falsafah Jawa bagi pengantin dalam berumah tangga nantinya.

Kesenian musik tradisional Banyumas juga memiliki kekhasan tersendiri dibanding dengan kesenian musik Jawa lainnya, diantaranya:

  • Calung, adalah alat musik yang terbuat dari potongan bambu yang diletakkan melintang dan dimainkan dengan cara dipukul. Perangkat musik khas Banyumas yang terbuat dari bambu wulung mirip dengan gamelan Jawa, terdiri atas gambang barung, gambang penerus, dhendhem, kenong, gong dan kendang. Selain itu ada juga Gong Sebul dinamakan demikian karena bunyi yang dikeluarkan mirip gong tetapi dimainkan dengan cara ditiup (Bahasa Jawa: disebul), alat ini juga terbuat dari bambu dengan ukuran yang besar. Dalam penyajiannya calung diiringi vokalis yang lazim disebut sinden. Aransemen musikal yang disajikan berupa gending-gending Banyumasan, gending gaya Banyumasan, Surakarta-Yogyakarta dan sering pula disajikan lagu-lagu pop yang diaransemen ulang.
  • Kenthongan (sebagian menyebut tek-tek), adalah alat musik yang terbuat dari bambu. Kenthong adalah alat utamanya, berupa potongan bambu yang diberi lubang memanjang disisinya dan dimainkan dengan cara dipukul dengan tongkat kayu pendek. Kenthongan dimainkan dalam kelompok yang terdiri dari sekitar 20 orang dan dilengkapi dengan bedug, seruling, kecrek dan dipimpin oleh mayoret. Dalam satu grup kenthongan, Kenthong yang dipakai ada beberapa macam sehingga menghasilkan bunyi yang selaras.
  • Salawatan Jawa, yakni salah satu seni musik bernafaskan Islam dengan perangkat musik berupa terbang jawa. Dalam pertunjukan kesenian ini menyajikan lagu-lagu yang diambil dari kitab Barzanji.
  • bongkel, yakni peralatan musik tradisional sejenis angklung, namun terdiri empat bilah berlaras slendro.

Sejumlah tarian khas Banyumasan antara lain:

  • lengger, merupakan tarian yang dimainkan oleh dua orang perempuan atau lebih. Di tengah-tengah pertunjukkan hadir seorang penari laki-laki disebut badhud (badut/bodor). Tarian ini umumnya dilakukan di atas panggung dan diiringi oleh alat musik calung.
  • sintren, adalah tarian yang dimainkan oleh laki-laki yang mengenakan baju perempuan. Tarian ini biasanya melekat pada kesenian ebeg. Di tengah-tengah pertunjukan biasanya pemain ditindih dengan lesung dan dimasukan ke dalam kurungan, dimana dalam kurungan itu ia berdandan secara wanita dan menari bersama pemain yang lain.
  • aksimuda, yakni kesenian bernafaskan Islam berupa silat yang digabung dengan tari-tarian.
  • angguk, yakni kesenian tari-tarian bernafaskan Islam. Kesenian ini dilakukan oleh delapan pemain, dimana pada akhir pertunjukan pemain tidak sadarkan diri.
  • aplang atau daeng, yakni kesenian yang serupa dengan angguk, dengan pemain remaja putri.
  • buncis, yaitu paduan antara kesenian musik dan tarian yang dimainkan oleh delapan orang. Kesenian ini diiringi alat musik angklung.
  • ebeg, adalah kuda lumping khas Banyumas. Pertunjukan ini diiringi oleh gamelan yang disebut bendhe.

Transportasi

Kabupaten Banyumas dilalui jalan negara yang menghubungkan kota Tegal-Purwokerto, Purwokerto-Temangggung-Magelang/Semarang, serta jalan lintas selatan Bandung-Yogyakarta-Surabaya. Wangon merupakan persimpangan jalur Yogyakarta-Bandung dan Tegal-Cilacap.

Angkutan umum bis antarkota diantaranya jurusan Jakarta, Tegal/Cirebon, cilacap, Bandung, Semarang, Yogyakarta/Solo.

Kabupaten ini juga terdapat jalur kereta api lintas selatan Jakarta-Cirebon-Purwokerto-Yogyakarta-Surabaya. Stasiun Purwokerto merupakan stasiun paling besar di wilayah Jawa Tengah bagian barat. Di antara kereta api yang melintasi Purwokerto adalah: Bima (Jakarta Kota-Surabaya Gubeng), Argo Lawu (Jakarta Gambir-Solo Balapan), Senja Utama dan Fajar Utama (Pasar Senen-Yogyakarta), Logawa (Purwokerto-Jember), dan Purwojaya (Jakarta Gambir-Cilacap). selain kereta api, juga banyak angkot yang sliweran di banyumas.

Media

Banyumas TV

Banyumas nduwe stasiun televisi lokal Banyumas Televisi, sing on air saben jam 06-23. Acarane lewih akeh produksi dhewek lan hasil karya rumah produksi lokal sing nduwe muatan gaya banyumasan sing kenthel, nang jam-jam tertentu uga merelay stasiun televisi B Chanel karo National Geografi.Acarane tambah maen pisan.

Radar Banyumas

Radar Banyumas kuwe surat kabar lokal sing terbit nang Banyumas, esih segrup karo Jawa Pos Surabaya.

mBanyumasi

mBanyumasi adalah KORAN RAKYAT yang dikelola oleh pengusaha lokal sejak Mei 2006 di Banyumas.

Stasiun Radio

Pendidikan

Pendidikan formal TK atawa RA SD atawa MI SMP atawa MTs SMA atawa MA SMK Perguruan tinggi Liyané
Negeri 3 965 106 22 9 1 1
Swasta 676 202 112 31 53 20 3
Total 679 1.167 218 53 62 21 4
Data sekolah nang Kabupaten Banyumas 2010/2011
Sumber:[1]


Tokoh kondang sing asalé Banyumas

Deleng uga

Referensi

  1. Data Pokok Pendidikan (DAPODIK) Wilayah Kabupaten Banyumas (2010/2011)
  2. Ensiklopedi Tokoh-Indonesia.com, Gatot Subroto
  3. Ensiklopedi Tokoh-Indonesia.com, Slamet Efendy Yusuf
  4. Ensiklopedi Jakarta, Christian Hadinata

Pranala Jaba