Figurmas

Sekang Wikipedia, Ensiklopedia Bebas sing nganggo Basa Banyumasan: dhialek Banyumas, Purbalingga, Tegal lan Purwokerto.
Mlumpat maring: navigasi, goleti

Figurmas Organisasi Alternatif Guru Di Daerah Oleh Drs. TRI JOKO WAHYONO Lokakarya Manajemen Organisasi Profesi Guru RAPIM FGII( Federasi Guru Independen Indonesia) Denpasa, 9-12 Nopember 2007

Guru kok demo ! Itulah tanggapan masyarakat ketika pada tanggal 30 Maret 2000, ribuan guru sing tergabung dalam Forum Interaksi Guru Banyumas (Figurmas) melakukan aksi turun jalan dengan long mach dari lapangan SMA N 2 Purwokerto menyusuri jalan protokol menuju rumah rakyat DPRD Banyumas untuk menyampaikan berbagai persoalan sing membelenggu guru. Tanggapan itu sangat dipahami, karena selama ini masyarakat menempatkan guru sebagai sosok sing senantiasa digugu lan ditiru, guru yaiku pahlawan tanpa tanda jasa sehingga mesti nrima walaupun ditindas. Gerakan 30 Maret 2000 inilah tonggak sejarah lahirnya Figurmas. Kehadiran Figurmas di tengah masyarakat tidak lepas dari guliran gerakan reformasi sing dimotori oleh para mahasiswa sehingga berhasil menumbangkan Presiden Soeharto dari kursi kekuasaan sing sudah diregamnya selama tiga puluh dua tahun. Lengsernya Presiden Soeharto membawa angin perubahan di semua sektor kehidupan termasuk di kalangan guru. Ketika Orde Baru berkuasa, berbagai persoalan hanya berani dibicarakan secara bisik-bisik, kini dapat didiskusikan secara terbuka. Sesuatu sing dulunya tidak mungkin dilakukan masyarakat, kini dapat dilakukan secara bebas tanpa tekanan dari pihak mana pun. Angin perubahan ini merupakan momentum sekaligus daya dorong sehingga para guru mempunyai keberanian untuk menyuarakan berbagai persoalan sing membelenggu dunia pendidikan. Figurmas yaiku “ organisasi guru” alternatif. Organisasi guru dalam tanda kutip, artinya Figurmas yaiku organisasi cair, anggotanya tidak terdaptar lan bebas keluar masuk, tidak ada ketua sing ada yaiku koordinator sing berperan sebagai fasilitator lan Figurmas tidak mengatur dirinya secara rigid dengan AD/ART. Kata forum menunjukkan bahwa Figurmas terbuka bagi para guru sing ingin berinteraksi, memeberdayakan diri, mau bersuara lan dadine guru merdeka melalui diskusi lan sminar sebagai media pembelajaran bersama. Perjuangan Figurmas Salah satu keprihatinan Figurmas yaiku alanya stigma guru bisu. Stigma ini tidak terelakkan, sebab sejarah mencatat guru telah dijajah oleh rezim Orde Baru sing otoriter hampir tiga puluh dua tahun, diperlakukan ibarat sekrup-sekrup mati sing siap digerakkan sesuai keinginan birokrasi, dijadikan kuda troya oleh para pemburu kekuasaan setiap lima tahun sekali melalui ideologi mono loyalitas lan setelah kekuasaan direguknya guru dilupakan, seperti pepatah habis manis sepah dibuang. Pengalaman pahit inilah sing memanggil lan menggerakkan nurani para guru sehingga merasa memiliki keprihatinan, merasa senasib sepenanggungan, lan visi sing sama untuk membangun sebuah komunitas guru sebagai media untuk mengartikulasikan berbagai kepentingan pendidikan, sebagaimana satu dari empat saran HAR Tilaar dalam membenahi Pendidikan Nasional yaiku, guru perlu menggalang kekuatan melalui organisasi profesi sehingga merupakan kelompok penekan sing dapat melobi banyak pihak sehingga terbentuk opini betapa besarnya peran pendidikan.

Persoalan sing diusung lan dikritisi Figurmas ketika aksi turun jalan pada tahun 2000 yaiku : Pertama, menolak Surat Edaran (SE) Dirjen Keuangan No. 32/A/2000 tentang tunjangan pegawai struktural lan fungsional, sebab melalui surat itu, pemerintah memutuskan untuk menaikkan tunjangan pegawai struktural hingga ribuan persen. Dengan demikian SE itu merupakan wujud perlakuan sing diskriminatif antara pegawai struktural lan fungsional, serta guru swasta. Akhirnya pemerintah meninjau kembali SE, karena selain Figurmas, guru di seluruh Indonesia juga melakukan aksi turun jalan. Kedua, peran PGRI sebagai organisasi guru di Indonesia pada umumnya lan Banyumas khususnya dirasa tidak independen, kurang kritis, lan peka terhadap persoalan pendidikan. Lahirnya Figurmas yaiku buktinya. Persoalan itu akibatkan PGRI dikelola oleh para birokrat pendidikan (bukan guru) . Bagaimana mungkin PGRI mau mengkritisi kebijakan pendidikan kalau sebagian pengurus berada di dalamnya ? Sudah layak lan sepantasnya PGRI dikembalikan kepada pemilik sejati, yaitu guru. Ketiga, kewajiban para guru sing berstatus PNS untuk mengikuti asuransi kesehatan (ASKES) lan tabungan perumahan (TAPERUM) . Dalam realitasnya guru tidak memperoleh pelayanan kesehatan sing cepat lan berkualitas, kalau periksa ke rumah sakit menggunakan fasilitas ASKES, tidak mendapat pelayanan sing baik seolah-olah guru dianggap tidak membayar . Demikian juga betapa sulit lan berbelit-belit ketika guru untuk mengambil Taperum. Tabungan boleh diambil ketika guru pensiun, atau digunakan sebagai uang muka KPR BTN. Hingga sekarang dua persoalan itu tak kunjung selesai. Keempat, salah satu persoalan sing terus disuarakan lan diperjuangkan Figurmas yaiku merebut kembali tanggung jawab profesi guru sing selama ini tergadaikan, seperti merencanakan, melaksanakan, lan mengevaluasi pembelajaran serta menindaklanjuti hasil evaluasi yaiku tugas pokok guru sing tak tergantikan oleh siapapun. Sesuai UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional , Pasal 58 Ayat (1) menyatakan “ Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.” Makna sing terkandung di dalam ayat tersebut yaiku evaluasi hasil belajar siswa pertama-tama ada pada guru. Artinya mulai dari penetapan kedalaman lan keluasaan evaluasi, penetapan kisi-kisi, penetapan butir soal, analisis item soal sampai pada pengambilan keputusan semestinya ada di tangan guru. Namun demikian sejak jaman Orde Baru hingga sekarang kebijakan Ujian Akhir Nasional (UAN) tetap diselenggarakan secara sentralistik oleh Depdiknas. Ujian sekolah SD lan SMP serta penyelenggaraan Ulangan Umum Bersama (UUB) tetap dikoordinasikan oleh para kepala sekolah melalui organisasi Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) dengan strategi kisi-kisi lan soal UAN disusun dari Depdiknas. Selangkan pada ulangan umum semesteran kisi-kisi disusun beberapa guru senior sing dikenal oleh pengurus MKKS atau MKKS memesan satu set soal lengkap kepada masing-masing pengurus MGMP Kabupaten , selanjutnya proses pengetikan lan penggandaan naskah soal diserahkan kepada perusahaan percetakan sing sudah dadine langganannya. Artinya Depdiknas lan MKKS telah mengambil alih otoritas guru khususnya dalam melaksanakan evaluasi pendidikan. Figurmas sebagai Sekolah Besar Kehidupan Agar guru mampu mengkritisi kebijakan pendidikan lan mengartikulasikan kepentingan pendidikan , maka Figurmas melakukan on going formation melalui berbagai kajian seperti diskusi bulanan, melakukan diskusi dengan berbagai elemen baik gerakan mahasiswa, kalangan akademisi maupun LSM sing mempunyai keeperpihakan terhadap dunia pendidika, lan menyelenggarakan seminar-seminar pendidikan dengan menghadirkan berbagai nara sumber sing kompeten. Persoalan sing telah dikaji melalui seminar antara lain : (1) Menggagas Sistem Pendidikan Masa Depan pada tahun 2000, (2) Education For All : Pendidikan Gratis, Guru Sejahtera tahun 2002, (3) Mengupas Tuntas RUU Guru tahun 2004, (4) Bedah buku “Pendidikan yang Memiskinkan” kerjasama dengan Pusat Studi Wanita Unsoed Purwokerto tahun 2004, Pelatihan HAM kerjasama dengan SOLIDAMOR 2004, Pelatihan Guru Kritis lan CRC dengan ICW tahun 2006 lan 2007. Dalam rangka membangun jaringan kerja, Figurmas bersama 26 gerakan guru di Indonesia berhimpun dalam Federasi Guru Independen Indonesia (FGII). Jaringan kerja ini diharapkan dadine media untuk mengakses berbagai informasi sekaligus mengkritisi persoalan pendidikan nasional. Selain sikap konsisten dalam melakukan gerakan, agar perjuangan guru membuahkan hasil , Figurmas menggandeng dengan pers. Media sing dipakai yaiku melibatkan kawan-kawan wartawan dalam kesempatan diskusi bulanan. Pada saat ini Figurmas dadine salah satu referensi ketika pers ingin mengangkat persoalan pendidikan. Secara tidak sengaja orang-orang sing terlibat dalam Figurmas yaiku guru-guru sing berstatus PNS sing mengajar di jenjang pendidikan SLTP lan SLTA, namun demikian status itu tidak mengurangi keberanian guru untuk bersikap kritis. Pun demikian Figurmas terkesan sebuah komuunitas sing elits lan ekslusif. Terwujudnya pendidikan gratis, berkeadilan, demokratis, lan guru sing sejahtera yaiku visi sing terus Figurmas perjuangkan, sehingga pendidikan akan menghasilkan orang-orang muda sing bermartabat. Drs. Tri Joko Wahyono Guru SMA N. 3 Purwokerto Pendiri & Koord. Figurmas. Wakil Sekjen FGII